Memotret Gerhana Matahari Total

Tips Memotret Gerhana Matahari Total dengan Teknik Multiple Exposure

Gerhana Matahari Total (GMT) merupakan salah satu fenomena astronomi yang sangat langka terjadi pada suatu daerah tertentu dimana posisi Bulan berada tepat diantara Bumi dan Matahari. Fenomena ini terjadi paling cepat dalam 18 bulan sekali di bumi. Indonesia pada tanggal 9 Maret 2016 merupakan Negara yang sebagian besar wilayahnya dilewati fenomena ini. Sebelumnya pada 18 Maret 1988 sebagian wilayah Indonesia juga dilewati oleh fenomena GMT dan akan terjadi lagi pada 20 April 2023. Oleh karena langkanya fenomena ini banyak orang yang ingin mengabadikannya melalui kamera. Pada dasarnya semua jenis kamera dapat digunakan untuk mengabadikan GMT, baik itu kamera analog (film), kamera ponsel, kamera digital pocket, kamera mirrorless, kamera DSLR, sampai kamera CCD (Charge Couple Device) khusus astronomi.

Persiapan awal memotret GMT

Sebelum memotret Gerhana Matahari Total, tentukanlah komposisi foto yang akan diambil. Apakah panorama saat panorama dengan indahnya kegelapan fase total yang dikombinasikan dengan suasana alam sekitar? atau dikombinasikan dengan kerumunan orang yang sedang mengamati dengan gambar fase total yang sedang terjadi di atasnya? Atau foto gerhana close-up yang memenuhi frame foto dengan Diamond Ring Effect dan Baily’s Beads yang jelas, Korona, Kromosfer dan Prominensa yang merekah, besar dan menakjubkan? Atau Multiple Exposure dengan fase-fase gerhana yang teruntai indah seperti mutiara di langit? Gunanya untuk menentukan peralatan seperti apa yang harus dipersiapkan.

Pada topik kali ini akan menjelaskan teknik memotret GMT dengan Multiple Exposure.

Memotret GMT menggunakan teknik Multiple Eksposure sebaiknya menggunakan kamera yang memiliki fitur Manual (M) setting. Dalam hal ini, kamera DLSR atau mirrorless maupun kamera pocket digital yang memiliki fitur Manual setting sangat disarankan. Kemudian aksesosis atau peralatan tambahan kamera yang juga wajib dipersiapkan akan kita bahas disini.

Dalam memotret fase Gerhana Matahari Total, kita memang tidak membutuhkan filter matahari karena Bulan telah menutup sempurna lingkaran matahari dan memblok cahayanya sehingga mata dapat dengan aman dan nyaman melihatnya. Namun jika kita ingin membuat foto lengkap seluruh fase gerhana, kita akan membutuhkan filter matahari untuk dapat memotret fase parsial. Bahkan jika matahari telah tertutup 99% piringannya, cahaya dari 1% bagian matahari masih teramat kuat dan dapat merusak mata kita dan sensor pada kamera. Jangan pernah melihat matahari tanpa filter kecuali saat gerhana benar-benar memasuki fase total! Filter matahari berfungsi sebagai penyaring cahaya dan bekerja dengan mengurangi intensitas cahaya matahari. Filter matahari tipe ND5 sebagai contoh, memiliki rasio pengurangan intensitas 1:100.000. Artinya, dari 100.000 cahaya matahari yang datang, hanya 1 saja yang boleh terlewati, sehingga matahari dapat aman untuk dilihat. Filter matahari juga terbuat dari material yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan bahan kaca yang dilapisi metal, ada juga yang menggunakan plastik perak Mylar, Black Polymer, atau ada juga yang menggunakan bahan resin yang berlapis logam.

Setelah filter matahari siap, jangan lupa untuk mempersiapkan tripod yang kuat/kokoh sebagai penyangga kamera agar kamera tidak bergeser. Karena ketika kamera bergeser sedikit saja, akan sangat mempengaruhi pada hasil akhir nanti. Kemudian persiapkan juga remote intervalometer (pada body kamera tertentu, biasanya sudah ada intervalometer bawaan). Setelah semua peralatan siap, tentukanlah interval waktu yang akan kita pakai pada saat memotret nanti. Tentu saja sudah disesuaikan dengan waktu pada fase Total berlangsung, agar saat interval telah berjalan fase total tidak terlewatkan. Kita juga perlu tahu kapan dan dimana arah Matahari terbit, serta kapan waktu Bulan dan Matahari mulai bersinggungan lalu kapan waktu gerhana selesai. Perhitungannya cukup rumit dan perlu ketepatan, yang terpenting kita harus tahu betul kapan fase total terjadi (jam, menit, detik). Contohnya begini, untuk wilayah Palu, fase total terjadi pada pukul 08.38 WITA (durasi sekitar 2 menit) serta bulan & Matahari mulai bersinggungan pada pukul 07.27 WITA, lalu gerhana selesai pada pukul 10.00 WITA. Jika saya menggunakan interval 10 menit pada setiap fotonya, maka dari pukul 08.38 akan dihitung mundur menjadi 08.28, 08.18, 08.08, 07.58, 07.48, 07.38, 07. 28, 07.18, 07.08. Jadi saya akan mulai memotret sebelum Matahari mulai bersinggungan, yaitu pukul 07.08 WITA. Lalu seterusnya kita hitung dari fase total sampai fase gerhana matahari selesai pada pukul 10.00 WITA.

Survey lokasi pemotretan pada hari-hari sebelumnya juga sangat berguna untuk mengetahui letak atau posisi dan sudut kamera saat kita memotret. Dari situ kita tahu berapa focal length lensa yang kita akan pakai nanti. Dengan menggunakan teknik ini, fokal length lensa tidak boleh berubah sama sekali dari awal sampai berakhirnya pemotretan. Karena ukuran matahari akan berubah ketika focal length juga berubah-ubah. Semakin panjang focal length yang kita pakai, maka semakin besar ukuran lingkaran matahari di foto. Konsekuensinya adalah, objek foreground kita akan semakin sempit/kurang wide. Dalam situasi ini saya menggunakan FL 25mm pada kamera DSLR crop factor saya (Nikon D7000), berarti setara dengan 37.5mm pada full frame. Kita juga bisa melakukan settingan exposure kamera ketika lensa dipasangi filter matahari. Pada saat itu settingan exposure yang saya pakai adalah ISO-200 f/8 SS 1/800 (dengan menggunakan filter matahari). Settingan exposure tidak harus berpatokan disini, bisa diatur sesuai keinginan masing-masing selama gambar yang dihasilkan bagus.

Persiapan peralatan dan hal-hal teknis diatas dimaksudkan agar pada saat GMT nanti, kita benar-benar siap dan tidak kehilangan moment sedikitpun karena gangguan atau tidak siapnya peralatan kita.

Setelah semuanya kita persiapkan dengan baik, saatnya memotret fenomena Gerhana Matahari Total. Datanglah lebih awal ke lokasi memotret kita, tujuannya agar tempat/titik kita menaruh tripod & kamera yang sudah kita rencanakan tidak diambil orang. Kita juga punya lebih banyak waktu untuk mengatur kembali peralatan atau settingan kamera kita. Saya dan teman saya sudah berada dilokasi dari pukul 02.00 WITA (dini hari), karena kami harus mengatur posisi teleskop dan peralatan yang cukup banyak kami bawa. Setelah matahari terbit, fokuskanlah lensa kearah matahari dengan menggunakan fokus manual dari titik yang sudah kita tentukan untuk memotret dengan focal length yang anda ingini. Kenapa harus fokus manual? Dalam beberapa kasus, jika menggunakan fokus otomatis, kamera baru akan mengambil gambar saat mendapatkan kontras yang baik. Karena ketika lensa dipasangi filter matahari, hanya mataharilah yang terlihat dari seluruh frame. Tentunya kita tidak ingin foto matahari kita blur/tidak fokus. Setelah fokus didapat, kuncilah (Lock) fokus dan focal length tersebut. Agar focal length saya tidak berubah, saya mengakali dengan menempelkan selotip di putaran ring lensa (AF-S DX Nikkor 18-105mm f/3.5-5.6G ED VR). Jangan lupa juga fitur stabilizer pada lensa anda (IS/VR/VC/dsb) harus dimatikan. Setelah itu aturlah Interval kamera/remote anda sesuai waktu yang sudah dipersiapkan. Kita tinggal menunggu sampai kamera mengambil 1 frame terakhir sebelum fase total berlangsung. Setelah frame tersebut selesai diambil, bukalah filter matahari anda dengan hati-hati agar kamera tidak bergeser posisi dan focal lenghtnya. Pada saat fase total, kita tidak membutuhkan filter matahari lagi, karena bayangan bulan sudah menutupi cahaya matahari. Bukan hanya sampai di melepas filter matahari saja, settingan exposure kamera juga harus kita ubah. Saya pada saat itu hanya mengubah Shutter Speed saja menjadi 1/2 sec. Lalu ketika kamera sudah mengambil gambar pada saat fase total, filter matahari harus kita pasang kembali dengan hati dan settingan exposure kamera kita kembalikan seperti di awal memotret gerhana tadi. Dan tunggulah sampai fase gerhana berakhir atau sampai interval kamera berhenti.

Post processing

Kita bisa menggunakan software penggabung foto apa saja selama hasil foto tetap bagus, mis. Photoshop, StarStack, dll. Setelah foto digabungkan menjadi satu(Stacking), itulah hasil Multiple Eksposure yang anda buat. Selamat Mencoba.

GMT Multiple(1).jpg
GMT Multiple(1).jpg

Jangan keasikan memotret saja pada saat gerhana terutama pada saat fase total. Nikmatilah dan rasakan sensasinya fenomena langka yang mungkin hanya kita lihat sekali seumur hidup.

Michael Kevin Tangkudung

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share this
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *